Selasa, 19 Februari 2013

FENOMENA WANITA BEKERJA

Fenomena wanita be­kerja sebenarmya bu­kan­lah fenomena baru yang muncul kemarin sore, melainkan sejak za­man awal diciptakannya ma­nusia. Hanya cara dan istilahnya yang berbeda pada ma­sing-masing zaman. Menjadi wanita tidaklah semudah yang dibayangkan oleh seorang pria tentang wanita. Apalagi wanita Indonesia, yang masih sangat kental dengan budaya ketimuran, yang selalu memandang wanita adalah sebagai seorang ibu yang anggun, halus, lemah lembut, selalu dekat dengan ke­luarga, dengan kasih sa­yang­nya membesarkan buah ha­tinya, dan sebagainya. Pe­rum­paan dan istilah itu, sepertinya hanya layak diberikan ke­pada kaum wanita saja.

Sejak dilahirkan wanita me­­mang memiliki kodrat yang membedakannya dengan kaum pria. Wanita Indonesia adalah wa­nita bangsa Timur yang meng­agungkan posisinya di keluarga. Sejak dahulu wanita menekuni peranannya di da­lam lingkup keluarga sebagai pendamping suami serta ibu bagi anak-anaknya. Pengasu­han anak-anak 100% berada di tangan ibu dan ayahnya, tidak di­serahkan kepada pihak lain ter­masuk pengasuh.


Tetapi, seiring dengan per­kem­bangan zaman dan era glo­balisasi yang semakin maju, kini wanita Indonesia diberi ke­sempatan serta peran yang sama dengan pria untuk ber­partisipasi dalam pembangunan nasional. Program pening­katan peran wanita di dalam pembangunan semakin men­da­pat perhatian. Wanita diberi kesempatan untuk berperan lebih majemuk dan menikmati pendidikan tinggi. Hasilnya, banyak wanita yang tampil dan berperan dalam kehidupan ber­masyarakat, berbangsa, ber­­negara, dan dalam berbagai aktivitas ekonomi.

Keterlibatan wanita yang su­­dah kentara membawa dam­pak terhadap peran wanita da­lam kehidupan keluarga. Fe­no­mena yang terjadi dalam ma­syarakat adalah semakin ba­nyak­nya wanita membantu sua­­mi mencari tambahan peng­­hasilan, selain karena di­do­rong oleh kebutuhan ekonomi keluarga, juga wanita se­makin dapat mengekspresikan dirinya di tengah-tengah keluarga dan masyarakat. Keadaan ekonomi keluarga mempengaruhi kecenderungan wanita untuk berpartisipasi di luar rumah, agar dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga.

Motivasi untuk bekerja de­ngan mendapat penghasilan khu­susnya untuk wanita go­lo­ngan menengah tidak lagi ha­nya untuk ikut memenuhi ke­butuhan ekonomi keluarga, me­lainkan juga untuk meng­gu­nakan keterampilan dan pe­nge­­tahuan yang telah mereka peroleh serta untuk mengembangkan dan mengaktulisasikan diri. Di kehidupan keluarga, suami dan istri umumnya memegang peranan dalam pem­­binaan kesejahteraan ber­sama, secara fisik, materi mau­pun spiritual, juga dalam me­ningkatkan kedudukan ke­luarga dalam masyarakat un­tuk memperoleh penghasilan yang pada dasarnya di­mak­sud­kan untuk memenuhi ke­bu­tuhan eko­nomi keluarga.

Tugas untuk memperoleh penghasilan keluarga secara tradisional terutama dibeban­kan kepada suami sebagai ke­pala keluarga, sedangkan peran istri dalam hal ini dianggap sebagai penambah penghasilan keluarga. Dalam golongan ber­pernghasilan rendah, istri lebih berperan serta dalam memperoleh penghasilan untuk keluarga (Ihromi, 1990). Seringkali kebutuhan rumah tangga yang begitu besar dan mendesak, membuat suami dan istri harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut membuat sang istri tidak punya pilihan lain kecuali ikut mencari pe­kerjaan di luar rumah. Ada pula ibu-ibu yang tetap memilih untuk bekerja, karena mempunyai kebutuhan sosial yang tinggi dan tempat kerja mereka sangat mencukupi kebutuhan mereka tersebut. Dalam diri mereka tersimpan suatu kebutuhan akan penerimaan sosial, akan adanya identitas sosial yang diperoleh melalui komunitas kerja. Bergaul dengan rekan-rekan di kantor, menjadi agenda yang lebih menyenangkan dari pada tinggal di rumah. Faktor psikologis seseorang serta keadaan internal keluarga, turut mempengaruhi seorang ibu untuk tetap mempertahankan pekerjaannya (Yu­lia, 2007).

Wanita Bekerja

Menurut Beneria (dalam Gunn, 1994) wanita yang be­ker­ja adalah wanita yang menjalankan peran produktifnya. Wanita memiliki dua kategori peran, yaitu peranan reproduktif dan peranan produktif. Pe­ranan reproduktif mencakup peranan reproduksi biologis, se­dangkan peranan produktif adalah peranan dalam bekerja yang menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis.

Banyak persoalan yang di­alami oleh para wanita ibu ru­mah tangga yang bekerja di luar rumah, seperti bagaimana mengatur waktu dengan suami dan anak hingga mengurus tu­gas-tugas rumah tangga dengan baik. Ada yang bisa me­nikmati peran gandanya, na­mun ada yang merasa kesulitan hingga akhirnya persoalan-persoalan rumit semakin ber­kembang dalam hidup sehari-hari (Yulia, 2007).

Pada umumnya, wanita ba­nyak menghadapi masalah psi­kologis karena adanya berbagai perubahan yang dialami saat menikah, antara lain perubahan peran sebagai istri dan ibu ru­mah tangga, bahkan juga sebagai ibu bekerja. (Pujiastuti dan Retnowati, 2000). Wanita yang menjadi istri dan yang bekerja sering hidup dalam pertentangan yang tajam antara perannya di dalam dan di luar ru­mah. Banyak wanita yang bekerja full-time melaporkan bah­wa mereka merasa bersalah karena sepanjang hari meninggalkan rumah. Namun, setiba­nya di rumah mereka merasa tertekan karena tuntutan anak-anak dan suami. Sering sekali timbul perselisihan antara suami-istri yang terus-mene­rus tentang pekerjaan atau gaji siapa yang lebih pen­ting bagi kelangsungan hidup maupun hal lainnya misalnya masalah tanggung jawab dalam mendidik dan merawat anak-anak (Ubaydillah, 2003).


Faktor pendorong Wanita Bekerja

Menurut Yulia (2007), faktor-faktor yang mendasari kebutuhan wanita untuk bekerja di luar rumah adalah :

  1. Tuntutan hidup, ada be­berapa wanita yang bekerja bu­kan karena mereka ingin bekerja tetapi lebih karena tuntutan hidup. Bagaimana mereka tidak bekerja jika gaji suami tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup. Ada suatu tren di kota besar dimana biaya hidup begitu besar sehingga ibu yang bekerja adalah merupakan sua­tu tuntutan zaman.

  2. Pendapatan tambahan un­tuk keleluasan finansial, be­be­rapa wanita berpendapat bahwa jika mereka mempunyai penghasilan sendiri, mereka me­rasa lebih bebas dalam meng­gunakan uang. Mereka bisa mendukung keuangan ke­luarga mereka sendiri seperti memberi uang untuk orang tua, ikut membiayai kuliah adik, memberi sumbangan untuk ke­luarga yang sakit dan lain sebagainya.

  3. Aktualisasi diri dan pres­tise, manusia mempunyai ke­bu­tuhan akan aktualisasi diri, dan menemukan makna hi­dupnya melalui aktivitas yang di­jalaninya. Bekerja ada­lah salah satu sarana yang da­pat dipergunakan oleh ma­nu­sia dalam menemukan mak­na hidupnya.

  4. Pengembangan bakat men­jadi komersial, banyak juga ibu rumah tangga yang menjadi pengusaha atau tokoh terkenal bukan karena mengejar ka­rir tetapi karena dengan sen­dirinya mereka berkembang oleh bakat yang dimilikinya. Ada banyak karir gemilang yang didapat oleh kaum ibu yang bermula dari sekedar ho­bi, seperti hobi menjahit, me­masak, merangkai bunga, bah­kan bergaul dan berbicara.
  5. Kejenuhan di rumah, ada juga para ibu yang rela me­ninggalkan anak-anak di ru­mah bukan karena desakan eko­nomi dan bukan pula karena desakan batin untuk mengaktualisasikan dirinya. Mereka hanyalah ibu-ibu yang merasa bosan jika harus mengurus anak di rumah. Mereka lebih senang jika bisa mempunyai kesibukan dan berkesempatan untuk bercanda ria dengan re­kan-rekan kerja.

Penutup

Wanita yang bekerja memiliki kesadaran untuk harus bisa menjadi ibu yang sabar dan bijaksana bagi anak-anak dan menjadi istri yang baik bagi suami serta menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung ja­wab atas keperluan dalam urusan rumah tangga. Di tempat kerja juga mempunyai komitmen dan tanggung jawab atas pe­kerjaan yang dipercayakan ke­padanya sehingga harus me­­nunjukkan prestasi kerja yang baik. Dengan demikian, terjadi keseimbangan untuk menya­tukan keduanya dan hal ini ti­dak mudah, diperlukan usa­ha dan tekad supaya peran ganda wanita dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Se­moga!!

3 komentar: